Tombol

ZAT - SIFAT


Pahami Prinsip Zat-Sifat dalam Tauhid
agar Tidak Buta Dunia-Akhirat
"Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda [kekuasaan Allah] bagi orang-orang yang yakin, dan [juga] pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?"
[Q.S. Adz-Dzariat:20]

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".
[Q.S. Thaha:124-126]

“Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).”
[Qs. Al-Isra:72]

Salam alaikum, Sobat Sarang,
Awalnya, saya memulai aktivitas blogging ini sekadar ingin menumpahkan aer atau mencurahkan hujan pemikiran-pemikiran pribadi dari hasil belajar tauhid sejak 7 tahun lalu [saya hijrah dari Bandung sejak 2002, jadi baru kenal Allah setelah 3 tahun lamanya menclok di Pontianak]. Dulu sih niat saya seperti ini saja, "Aku akan menulis di sini sampai mati meski akan seperti orang gila "ngomong sendiri" karena blog ini memang tidak mengusung tema yang popular, bahkan sering dihindari karena ada 'efek-sesat'-nya. Tak apalah, setidaknya kelak ketiga belas kakak kandungku [dari pasangan ortu monogami ya..], keponakan-keponakanku, dan anak-cucuku mengenal lebih dekat si gue melalui tulisan-tulisan di blog ini." InsyaAllah, aamiin.

Sama sekali tidak menyangka bahwa akhirnya blog ini jadi semacam "situs resmi" pengajian kami di Pontianak. Juga sama sekali tidak menyangka blog ini jadi begitu hidup dengan kehadiran Sobat Sarang semuanya. Jujur, saya merasa beruntung dengan ini semua. Alhamdulillah Ya Allah. Terima kasih Guruku, terima kasih Sobat Sarang semua. Semoga Allah meridai hidup dan mati kita dalam Islam yang bersih dari kesyirikan barang satu zarah pun. Aaamiin.

Latar belakang munculnya tulisan ini adalah permintaan beberapa Sobat Sarang, baik di sini maupun di laman komunitas facebook blog ini. Lebih dari satu kali ada yang bertanya seperti ini, "Kang Mux, saya tertarik dengan bahasan ilmu tauhid ini, tapi..bisa gak bahasanya disederhanakan supaya saya lebih mudah paham?"

Saya sempat bingung dengan pertanyaan semacam di atas itu. Sebab menurut saya, bahasanya biasa-biasa saja, tidak terlalu sarat dengan istilah-istilah berbahasa Arab, atau istilah-istilah khusus ragam bahasa keagamaan. Tapi, kemudian saya sadar.. yang jadi masalah di sini sebenarnya bukan istilah atau kalimatnya yang rumit, melainkan paradigma [kerangka berpikir] tauhidnyalah yang masing asing bagi kebanyakan orang.

Saya ucapkan terima kasih pada Sobat sekalian yang memberi masukan tersebut [salah satunya adalah MasBro Fadlil Sangaji]. Ini juga akhirnya mengungkap sebuah fakta: pantas saja sebelum ini di facebook saya beberapa kali langsung dituding sesat. Well, benar kata pepatah, 'tak kenal maka tak sayang ya'. Nah, mari kita kemon...


Pendahulan: Mengapa ilmu tauhid ini asing bagi kita muslim modern sekarang ini?
Baru kemarin saya mendengar dari Abah Siradj kisah yang disampaikan dari orang-orang tua dulu. Rupanya ini bermula dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan kolonial Belanda. Sejak perjuangan rakyat Banten, Jawa Barat yang dipimpin Sultan Ageng Tirtayasa (1631-1683) yang dibantu oleh Syaikh Yusuf (seorang arif billah kelahiran Gowa, Sulawesi Selatan, pahlawan nasional di dua negara: Indonesia dan Afrika Selatan), juga pada Perang Padri (1803-1821) yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol di Sumatera Barat, bersambung dengan perjuangan Pangeran Dipenogoro (1825-1830) di Jawa Tengah. Rupanya nama-nama besar ini adalah para muwahid; orang-orang tauhid. Para gubernur Belanda kebingungan dan merasa aneh terhadap para pejuang yang mereka perangi. Cukup dengan kalimah tauhid "Laa ilaaha Ilallah" dan "Allaahu Akbar" pasukan pejuang yang notabene petani dan nelayan itu berubah menjadi pasukan berani mati dan... ini agak sulit diterima para skeptis.. mereka rata-rata kebal peluru!

Akhirnya Belanda melakukan infiltrasi dan menyebar banyak mata-mata untuk mengetahui apa rahasia di balik kedahsyatan para pejuang ini. Akhirnya terbongkar sudah, rupanya para pejuang gagah berani itu, mereka semua adalah penimba ilmu tauhid! Jadi wajar juga kalau kalimah tauhid yang dipekikkan para pejuang dulu memiliki "efek karamah" ya.

Sejak saat itulah, setiap diketahui ada pengajian tauhid, para kyai dan murid-muridnya langsung ditangkap Belanda. Sejak saat itu pula, pengajian ilmu tauhid ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Kata Abah Siradj, orang-orang dulu kalau pergi ke pengajian tauhid itu tengah malam buta dan dilakukan secara rahasia karena khawatir kena tangkap.

Belanda menjajah negeri ini sekira 3,5 abad. Wajar bila kemudian pengajian ilmu tauhid ini menjadi langka, jarang diketahui orang, bahkan asing juga bagi kebanyakan ulama masa kini. Wajar kalau sekarang ini banyak ulama buta tauhid, yaitu ulama yang hanya pandai mengajarkan sisi zahir agama ini [syariat: akhlaq dan fiqh], tetapi kurang memahami, bahkan terkesan "main kira-kira" untuk sisi qadim [esoterik-batin: hakikat-makrifat] yang ada di agama ini. Wajar juga kalau akhirnya ada umat Islam yang bisa tertarik dengan ilmu-ilmu kebatinan seperti kejawen karena mereka tidak puas hanya disuguhi ulama dengan ajaran akhlak dan hukum melulu. Ini bukan salah mereka, ini kehendak Allah dalam hadis nubuwwah bahwa Islam itu muncul secara "asing", demikian juga di akhir zaman akan dikenal sebagai "asing". Allahua'lam.


Pokok Bahasan: Zat dan Sifat

Kepahaman mengenai zat dan sifat dalam ilmu tauhid termasuk fondasi yang penting sebab seluas alam raya beserta aneka isinya hanya terdiri atas dua unsur ini: zat dan sifat. Diri kita ini adalah wujud zat dan sifat sekaligus; takterpisahkan.

Sifat
Apa yang dimaksud dengan sifat?
Sifat ialah segala sesuatu yang bisa dikenali dengan panca indera. Perwujudan sifat di antaranya berupa
• bentuk: bulat, bundar, lonjong, kotak, tinggi, pendek, panjang, lebar, tebal, tipis, tampan-cantik, buruk, jelek, dsb.
• warna: merah-kuning-hijau, di langit yang biru, pelukismu agung.. [beuh kadon nyanyi.. c koplak wkwkwkw.]
• bebunyian: bising, samar-samar, merdu, sumbang, dsb.
• rasa: manis, asin, asam, pahit, suka, duka, haru, dsb. atau berupa
1. tekstur: kasar, lembut, halus, kesat, dsb.
2. kesan moral: baik, jahat, sopan, kurang ajar, dsb.

Nah, karena manusia mengenali dunia sekitar dengan kelima indera. Berarti sebenarnya yang kita lihat dan kita rasa di sekeliling kita ini, semuanya-tanpa kecuali adalah penampakan sifat-sifat. Ya 'kan?!

Lebih dalam lagi, sebenarnya segala sifat yang ada pada diri kita dan yang ada pada sekalian alam ini barulah wujud fana [semu], artinya baru wujud keterangan atau wujud 'embel-embel', belum menunjukkan wujud inti atau wujud asli. Errm.. mungkin akan lebih mudah kalau kita larikan ke pelajaran bahasa, khususnya materi tentang frasa [gabungan kata]
Contoh:
Suster cantik | Suster berkerudung putih | Suster ngesot
inti keterangan inti keterangan inti keterangan


Simpulan yang dikaitkan dengan topik kita:

Suster cantik
Suster berkerudung putih
Suster ngesot
sifat

Hal keadaan sifat itu berbeda-beda pada tiap makhluk [berkulit putih-hitam-sawo matang-sawo busuk; berambut lurus-ikal-berombak banyu-keriting-kribo; bermata sipit-belo-juling-buta; ada normal-ada cacat, ada tampan kayak Mux-ada jelek kayak setan wkwkwwk]. Berubah-ubah [muda jadi tua, bodoh jadi pintar, kecil tumbuh besar, sehat-jadi sakit, sakit jadi sembuh, miskin jadi kaya, kaya jadi miskin, hina jadi mulia, mulia jadi hina]. Nisbi, serba-mungkin alias tidak pasti. Bergantung pada Kehendak Allah yang Menjadikan.

Jadi, para ganteng-cantik gak layak sombong dengan keganteng-cantikannya sebab itu murni gratisan dari Allah, bukan hasil request kamu sebelum lahir 'kan. Hehehe.

Contohlah ane, biar ganteng gak pernah menyebut diri ganteng. Ane tau ganteng itu karena disebut sama orang aja: sama para fans, para silent reader, utamanya sama para secret admirer. Sumpah kalapa deh, ane gak pernah nyebut ganteng ke diri sendiri. #hoax #abaikan

Lanjyuuut.. Keber-ada-an sifat tidak bisa berdiri sendiri. Sifat membutuhkan tempat untuk ber-ada.

Contoh di pelajaran bahasa lagi. Dalam pembentukan sebuah kata, kita mengenal ada yang disebut morfem bebas dan morfem terikat. Atau...kita sederhanakan menjadi kata dasar dan imbuhan.

makan --- memakan --- dimakan --- termakan

Imbuhan me-; di- dan ter- berperan penting dalam perubahan makna kata dasar makan, tetapi imbuhan me-, di-, ter- itu tidak punya makna sama sekali jika tidak menempel pada kata dasar. Inilah makanya disebut morfem terikat.



Nah, sampai di sini mudah-mudahan Sobat Sarang sudah paham bahwa yang disebut sifat itu pasti "menempel" pada sesuatu untuk keber-ada-annya [eksistensinya]. Ketampanan atau kecantikan wajah itu memerlukan tempat untuk dapat terlihat oleh mata orang lain sehingga orang mengakui bahwa benarlah dia itu tampan atau cantik.

Kalau tidak ada tempat menempelnya sifat tampan dan sifat cantik, niscaya tak seorang manusia pun bisa "ngeksis" dengan ketampanan atau kecantikannya.

Kalau Sifat yang mewujud pada rupa wajah si Mux ini tidak bertempat, niscaya Muxlimo itu bukan makhluk Tuhan paling seksi. wkakak!!

Jadi, sifat ini bertempat di mana?
Ketampanan atau kecantikan itu menempel pada apa? Pada kulit? Salah!
Sebab kulit itu pun sendiri adalah sifat. Ingat lagi, bahwa yang disebut sifat itu segala sesuatu yang dapat dilihat, diraba, dirasa, dsb.

Jadi, sifat ini bertempat di mana?
Sifat bertempat pada zat. Maka jangan kaget kalau Sobat menemukan perkataan semacam ini,"sifat berdiri pada zat" atau "sifat itu bertubuhkan zat" atau "sifat bertempat di zat".

Lalu, yang disebut zat itu seperti apa?
Zat
Untuk memudahkan paham mengenai zat, silakan Sobat lihat dulu gambar kapur segede auzubillah di bawah ini.





Seandainya saat ini Sobat sedang memegang sebatang kapur-tulis dan melihat warna putih kapur-tulis, sebenarnya yang Sobat pegang dan lihat itu bukan zat kapur-tulis, melainkan sifat kapur-tulis. Ingat, setiap yang bisa disebut, diraba dan dilihat itu semua sifat, bukan zat.

Nah, jadi zat kapur tulis itu yang mana atau seperti apa?
Kalau Sobat mau tahu zat kapur-tulis, mau tidak mau Sobat sisihkan semua sifat yang menempel pada kapur-tulis itu. Artinya, Sobat musti mengikis kapur-tulis itu sampai tidak ada lagi sifat kapur-tulis yang tersisa. Kikis kapur-tulis itu sampai tidak terlihat lagi [sifat] warna putihnya, kikis terus sampai tidak ada lagi [sifat] kapur-tulis yang bisa dipegang, kikis terus sampai tidak ada lagi [sifat] kapur-tulis yang bisa disebut.

Sudah?
Nah, itulah zat kapur-tulis yang sebenarnya.

Seperti apa? Bisa dilihat tidak? Bisa disebut tidak?
Kalau masih ada [sifat kapur-tulis]yang bisa dilihat, dipegang, dan disebut, berarti pencarian kita belumlah sampai ke zat kapur-tulis. Inilah makna yang disebut dalam Quran sebagai "laysa kamitslihi syai'un" alias tidak ada seumpamanya.

Ini baru zat kapur tulis yang nota bene makhluk Allah, bagaimana lagi dengan Zat Allah? Pasti terlebih laysa kamitslihi syaiun! Allahu Akbar!

Ini baru Zat Allah, sedangkan Allah itu bukan berupa Zat karena Allah itu Rabbul Izzati alias Tuhannya sekalian Zat, bagaimana lagi dengan Diri Pribadi Allah itu? Pastikan terlebih Maha-laysa kamitlihi syaiun! Allahu Akbar!! [*]

Demikian juga kalau Sobat mau tahu zat manusia, zat diri sendiri: kikis kulit tampak otot, kikis otot tampak urat, kikis urat tampak tulang, kikis tulang tampak sumsum, kikis sumsum, kikis..kikis..kikis terus tampak apa? Ya seperti itu bentuknya hakikat diri kita ini. Tidak bisa disebut!

Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?
[Q.S. Al-Insaan:1]


Hal keadaan zat ini meliputi sekalian alam, tidak mengambil tempat, kekal sampai yaumil qiyamah, mahasuci: bersih dari sesuatu, tanpa partikel. Itu sebabnya di Quran Allah mensifati Diri-Nya sebagai Maha Meliputi karena ada yang maha meliputi tapi bukan Tuhan. Juga Allah mensifati Diri-Nya dengan Mahabesar karena ada yang mahabesar tapi bukan Tuhan, yaitu zat-Nya.

Sifat, esa berdiri pada zat. Zat, esa dengan Tuhannya [Rabbul izzati]


Zat ini banyak variasi sebutannya dalam Quran, di antaranya: Nur Muhammad, Ruh [Idhafi], Mahasuci, sedangkan dalam ilmu Kalam disebut kosong [tubuh kosong], maharuang [tubuh maharuang], tubuh alam, dsb.

Nah, Saudara-saudaraku Sobat Sarang, yang kita bahas di sini baru sampai pada zat dan sifat baharu/muhaddast atau disederhanakan menjadi zat dan sifat "benda konkret". InsyaAllah, ke depannya ada lagi bahasan istilah "zat-mutlak" dan "zat-sifat" yang masuk wilayah qadim atau "abstrak".




Adakalanya jasad manusia diibaratkan sebagai "air yang beku".

Penutup: Apa Gunanya Belajar Tauhid untuk Menjalani Kehidupan Sehari-hari? Kalau Sobat sudah paham tentang zat, pasti Sobat tidak ragu lagi bahwa zat diri kita ini se-zat dengan dengan zat pohon, zat kucing, zat batu, zat meja, zat tanah-air-api, zat bumi dan langit, zat surga-neraka, semuanya se-zat [satu zat; dari sumber yang sama]. Yang membedakan manusia dengan batu itu sifat yang menempel pada zat tersebut. Pemahaman seperti ini jugalah yang pernah kami sampaikan di tulisan berjudul Martabat Tujuh dan Pertemuan Indonesia-Malaysia di Jabal Nur.

Di pengajian, beberapa kali Abah Siradj mengatakan, "Beruntung kita ini oleh Allah dimanusiakan, bukan dikambingkan, bukan dipohonkan, bukan dibatukan."


Kalau Sobat sudah paham tentang zat dan sifat ini insyaAllah Sobat juga paham dengan perkataan-perkataan hakiki Muhammad Tubuhku; Nur Nyawaku dan Tuhan Tubuhku, Yaa Budduhun. [Gosip di kalangan khawassul khawwas: biar hanya mendengar sekilas sambil lalu, tanpa paham, tanpa meyakini kalimah-kalimah hakiki tersebut.. insyaAllah deh. Aamiiin. Tapi khusus bagi mereka yang sudah pernah dan masih dalam keadaan bersyahadat sampai mati]

Sobat juga akan memahami mengapa praktik tafakur itu menjadi rukun qalbi untuk meraih khusyuk-tawadhu dalam salat, karam dalam zikir, dan dalam ibadah-ibadah lainnya.

Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. [Q.S. Ar-Rad:28]

Bagi saya pribadi, kesaksian Mbak Sally yang mengaku awam soal tauhid membuktikan bahwa keikhlasan menerima pelajaran tauhid dan mengamalkan praktiknya adalah murni karunia Allah atas diri pribadi kita. Terlepas apakah sebelumnya kita mencari atau tidak, terlepas dari banyak-sedikitnya ilmu agama dan amal kita. Karunia Allah ini saya lihat juga pada ada diri Mbak Annisa Muslima yang mengaku sebenarnya tiap baca postingan di sini selalu bingung, tapi tidak sudi terlewat satu judul pun dan ikhlas pula mengamalkan praktik tauhid ini. [saya cari komentar itu untuk ditunjukkan screen-shot-nya tapi gak dapat]


Kalau Sobat sudah paham soal zat dan sifat ini, insyaAllah juga akan memahami bahwa antara zat dan sifat ini esa; tidak becerai; tidak bersekutu juga tidak bisa dipisahkan. Ini adalah fondasi dasar untuk memahami keesaan Tuhan-hamba yang bersih dari paham-paham huluul & ittihad, bebas dari pola pikir kaum Jabbariyyah dan Muntazillah, juga bebas dari konsep Wahdatul Wujud [Manunggaling kawula-Gusti] yang sudah diselewengkan orang-orang buta tauhid.

Kalau Sobat sudah paham soal zat dan sifat ini, insyaAllah Sobat tidak akan tertarik dan tertipu dengan ajaran kebatinan-kejawenisme beserta amalan-amalan setani semacam astral projection, tidak akan terpana dengan fenomena "kesurupan legal" anak indigo, dan sama sekali tidak tertarik duduk mengaji di pesantren-pesantren setan pimpinan kyai-kyai bertanduk yang ajarannya berkedok agama padahal prioritas utamanya memberikan pelajaran "bonus" berupa ilmu kanuragan, ilmu kebal, ilmu melukis hantu, ilmu asihan, penglaris, pelancar jodoh, dsb.


Khusus untuk fenomena pesantren setan, saya pernah mengatakan pada mereka bahwa ilmu kebal itu hakikatnya tidak ada. Nabi Ibrahim a.s. dulu tubuhnya tidak binasa dimakan api bukan pakai ilmu kebal, melainkan dengan "doa-diam" dari puncak ilmu tauhid!

Itulah sebabnya, Nabi Ibrahim a.s. dinobatkan sebagai Khalilullah,'kekasih Allah dan sebagai "Bapak Tauhid, Bapak para Nabi" sehingga nama beliau pun tetap kita sebut setiap kita salat.

Ilmu-ilmu kesaktian yang hanya berlaku untuk di dunia, pastikan itu dari setan dan tidak ada gunanya dipelajari dan diamalkan. Kalau ada ilmu kebal ditabok malaikat dalam kubur atau ada ilmu melarikan diri dari tangkapan malaikat penjaga neraka, baru gua mau ikut!


Itulah sebabnya, Allah Swt. menyebut orang-orang yang malas ber-iqra, tidak mau menggali makna hakiki ayat-ayat Quran, bahkan mengingkari kebenarannya, sebagai manusia-manusia yang lebih rendah daripada binatang, bahkan lebih rendah lagi!

"… Mereka (manusia) punya hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), punya mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), punya telinga tetapi tidak mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka (manusia) yang seperti itu sama (martabatnya) dengan hewan bahkan lebih rendah (lagi) dari binatang." (QS 7:179)


CATATAN BONUS:

Itulah sebabnya, di antara Sunni-Syiah-Wahabi, saya paling anti, saya paling jijik, saya paling garang pada golongan mengaku Islam yang bernama wahabi-salafi. Sebab mereka ini golongan yang Allah sebutkan di ayat tadi, hanya hapal Quran-hadis tapi buta hakiki. Bahkan, setelah mereka sesat dan rendah sedemikian itu, mereka pun mencegah umat manusia untuk mengenal Tuhannya. Mereka dengan percaya diri menyatakan konsep Sifat 20--termasuk bahasan soal Sifat Qadim, itu sesat dan tidak ada sandaran dalilnya, lalu dengan seenaknya mengharamkan setiap pembicaraan mengenai Allah dengan dalih pembicaraan makrifat itu asalnya terkena pengaruh Hindu-lah, Filsafat Yunani-lah, dan lain-lain.

Lebih jauh lagi, mereka menjauhkan manusia dari fitrah dengan seenaknya pukul rata dan dengan kaku mengharamkan musik, mengharamkan suara perempuan, mengharamkan gambar-gambar makhluk hidup, lalu berteriak merekalah yang benar-benar mengamalkan hukum syariah dengan menegakkan kekhalifahan yang dipimpin seorang raja [???]. Cuih! Sebenarnya merekalah pemfitnah besar agama ini.

Tidak heran kalau umat awam banyak yang tertipu dan jadi pengikut sekaligus pembela teguh Wahabi-Salafi. Sebab, ulama-ulama bertanduk Zionislam mendakwahkan kesesatan itu dengan penuh percaya diri, dengan sikap santun dan lemah lembut yang memesona lengkap dengan dukungan copasan dalil yang sempurna sebagai pembenaran.


Ini buktinya:

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, lalu Dia bersemayam di atas ’Arsy. [Q.S. Al-A'raaf:54]


Mereka yakinkan umat dengan simpulan bahwa Allah bertempat di Arsy.


“Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27)


Seperti ini dalih dari ulama bertanduk buta tauhid di muslim.or.id

Manusia punya kaki, gajah punya kaki. Akan tetapi hakikat kaki gajah berbeda dengan kaki manusia. Sesama makhluk saja bisa terjadi sama nama dengan hakikat yang berbeda. Maka antara makhluk dengan Allah tentu jauh lebih berbeda. Makhluk disifati dengan berbagai kekurangan sedangkan Allah disifati dengan berbagai kesempurnaan. Apakah sama Zat yang sempurna dengan yang penuh kekurangan? Tentu tidak! Maka demikian pula dalam menyikapi sifat wajah.

Allah telah menyebutkan di dalam Al Quran maupun As Sunnah bahwa Dia memiliki wajah maka kita katakan pula bahwa wajah Allah tidak sama dengan wajah makhluk, meskipun sama namanya yaitu wajah. Lalu apa susahnya (mengakui bahwa Allah memiliki wajah -ed)?



Simpelnya dia mau ngomong gini: Allah itu punya tangan, kaki, dan wajah, tapi jangan samakan dengan tangan, kaki, dan wajah makhluk.


Ini namanya kalau di bahasa kampung saya disebut bulak-balik-blekok, keneh-keneh kehed alias sama aja bohong! Biar bagaimana pun, makna tangan, kaki, wajah, naik- turun, datang-pergi, itu semua makna yang hanya layak diarahkan pada makhluk, bukan pada Pencipta Makhluk!

Hati-hati, bahkan dalil pun bisa dijadikan alat penyesatan. Bahkan Allah pun berkehendak menyesatkan manusia-manusia lalai.

Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu. [Yaitu] orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan [bagi mereka] di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang. [Q.S. Al-Mukmin/Ghafir: 34-35]


Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang bathil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang bathil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati [Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya]. [Q.S. Al-Anbiya:18]



Bukti utama kaum wahabi-salafy itu = ajaran zionislam adalah fakta ulama-ulama wahabi-salafy bersikap anti-takwil. Artinya mereka mengaku menafsirkan Quran dan hadis itu hanya sebatas makna tersurat [makna konkret]. Mengingkari pentakwilan artinya mengingkari keberadaan makna tersirat [makna abstrak] juga berarti mengingkari yang gaib. Padahal Allah di Quran banyak membuat perumpamaan supaya manusia ber-iqra!


“Sesungguhnya, Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan, “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.” [Al Bagarah, ayat 26]

Jadi, Wahabi-Salafy mengajarkan umatnya untuk berpola pikir materialistis. Nah, paham dan filsafat materialistik ini datang dari mana? think!



Hanya milik Allah Asmaul-Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul-Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam [menyebut] Nama-Nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu [pula] mereka menjalankan keadilan. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur [ke arah kebinasaan], dengan cara yang tidak mereka ketahui. [Q.S. al-A'raf:180-182]



Siapa yang bakal menyangka kalau selama ini dirinya menjauhkan manusia dari pengenalan akan Tuhannya dengan dalil. Kemudian justru dalil yang mereka pakai itulah yang menyeret mereka kepada kebinasaan?

Jadi, siapa pun kamu yang mengaku Islam tapi keukeuh tetap berdiri hanya di syariat [paham dan amalan jasadi semata], kamu telah dibius untuk menjadi muslim bermata satu! Mengingkari keberadaan yang gaib [qadim] itu ciri manusia yang dikuasai setan. Di sinilah letak persamaan Wahaby-Salafy dengan Ahmadiyyah. [Kedua aliran ini made in UK dan USA, Wahabisme disebarkan melalui KSA]

Saya tidak ragu mengatakan bahwa dakwah wahabi-salafy di seluruh dunia adalah dakwah zionis kaki-tangan Dajjal bertopeng Islam. [termasuk jika ada sunni-syiah yang berkeyakinan Allah ada di Arsy dan aktivitasnya bersifat menjauhkan manusia mengenal Tuhannya. Sebab tujuan utama penciptaan adalah mengenal Tuhan]

Saya juga tidak ragu mengatakan orang-orang liberal-pluralis yang ada di Indonesia, seperti JIL, Wahid Institute, Aliansi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan itu bagian dari dakwah zionisasi yang sama. [Perhatikan sumber dana mereka]

Ingatlah, Dajjal dan kaki-tangannya tidak akan muncul berupa wujud setan. Dajjal itu penipu ulung. Dia akan muncul bak orang suci, pertama mengaku nabi karena punya banyak "mukjizat" lalu mengaku Tuhan. Mungkinkah manusia waras akan percaya pada nabi yang penampilannya "metal" seperti setan?? #think!

Gali pesan-pesan Rasulullah soal Dajjal dan kedajjalan. Wajar yang ditakuti Rasulullah Saw. atas umat ini bukanlah kehadiran si Dajjal, melainkan fitnah sebelum kedatangannya.

Allahua'lam.
[*]:
[kembali]Waktu mengetikkan bagian tadi ane tiba-tiba ==> :( , terlebih lagi waktu baca-ulang di sesi penyuntingan tulisan ini. Tak mampu...kena zauq.

*mumpung lagi mood curhat)
Jujur, sebenarnya sebelum belajar tauhid, sejak lama saya ini tidak bisa lagi meneteskan air mata meskipun dalam keadaan sendirian, sedang sedih-bete berat, dan sedang sangat ingin menangis. Beneran. Asli. Saya pribadi juga ngerasa aneh dan asli gak tau kenapa. Bukan sok jantan, bukan sok lelaki, tapi...

menitikkan air mata adalah barang mewah untukku...

Bukan mau over-melow lebay-alay kalau saya katakan, kisah hidupku jauh lebih menyakitkan daripada kisah di film-film drama Korea yang sedang tren di Indonesia. Tapi tetap saja sulit yang namanya menangis itu. Sampai-sampai dulu saya buat puisi ini [tahun 1997; berarti di tahun ke-3 duduk di bangku Sastra Unpad]

..ternyata menahan pedih sampai kering air mata itu ada dan nyata.. dan bukan klise...

...baru sadar mulai bisa menangis lagi setelah mengenal tauhid beberapa tahun lalu. Tapi tetap saja itu pun jarang dan untuk urusan duniawi masih gabisa mewek!! Padahal justru urusan duniawi ini yang paling sering bikin gue pengen ngacak-ngacak septic tank!!

Daripada nongkrongin hati sanubariku [permukaan] yang ancur-amburadul, mendingan berusaha masuk ke hatiku yang putih..Ruh Qudus.. sebab hati inilah yang Allah pandang ["yanzuru 'ala qulubikum"].

Pada hati yang putih inilah Nabi Muhammad Rasulullah Saw. menerima wahyu Allah dan beliau juga Allah karuniakan pandangan rabbani sehingga banyak juga beliau sampaikan hadis-hadis nubuwwah [bersifat prediksi masa depan]. Ilmu "masuk" sampai ke hati yang putih inilah juga yang diwarisi para arif billah dari Rasulullah Saw. Hati yang ini oleh Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin disebut sebagai relung hati yang paling dalam.

"Takutilah firasat orang mukmin, sesungguhnya ia memandang dengan Cahaya Allah" (H.R. Thabrani & Tirmidzi) [Nur Allah=Ruh Qudus=Zat-Mutlak]


Allah menunjukkan Mahabijaksana-Nya dengan menakdirkanku punya mental suka becanda. Honestly, Kalau bukan karena ada sentuhan Allah melalui agama, khususnya ilmu tauhid, mungkin sejak lama aku menjadi pribadi serius, pendiam, sekaligus diam-diam gila. Jadi, tidak selamanya banyak ketawa itu tandanya lalai. [udah ah tar keterusan curhatnya]



"SYAIKH SIRADJ"
Original Post By : Adamux Troy     






1 komentar:

  1. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/104.gif

    BalasHapus